PEMBUKTIAN UNTUK SETIAP GAGASAN DAN TINDAKAN KITA
29 November 2010 pukul 18:07
PEMBUKTIAN UNTUK SETIAP
GAGASAN DAN TINDAKAN KITA
Dalam sebuah kehidupan bermasyarakat, strata kehidupan sering jadi acuan untuk menilai seseorang. Penampilan juga termasuk menjadi sorotan. Kemudian muncul pertanyaan seperti ini... dia itu anaknya siapa? orang kaya atau miskin... pergaulanya sama siapa saja? Sekolah apa nganggur... dan pertanyaan-pertanyaan krusial lainya. Dalam bergaul yang kita inginkan adalah terjalinya simbiosis mutualis, ada juga macem kaya“efivit” dan atau “benalu”, jenis orang kaya gini sering kita jumpai dan kadang “menempel” dikehidupan kita. banyak wajah yang kita kenal, ratusan tangan pernah kita jabat, kita genggam, ribuan kali kita disapa dan dilambaikan tangan oleh teman... tetapi hanya beberapa orang yang mengijinkan bahunya sekedar untuk bersandar kala sedih menyambar, yang sudi hatinya untuk sekedar dititipkan rahasia-rahasia kecil perihal kehidupan, yang memberikan “tandu” untuk semangat yang lumpuh, yap mereka adalah sahabat kita. Hidup memang permainan dan kitapun senang bermain walaupun dalam bentuk dan pengertian yang berbeda-beda, politik adalah cara untuk mencapai tujuan, kita berteman merupakan sebuah kebutuhan, pengharapan agar diterima dalam pergaulan, aktualisasi diri mendapatkan perhatian, rival berkompetisi menuju sempurna dalam semua lini kehidupan tetapi bukan sekedar untuk mencukupi prestise dan prestasi semata. Ada rasa persaudaraan yang harus terpancang dalam hati, belajar merasakan kesedihan pun kebahagiaan, dan bekerjasama menggenapi mimpi.
Jika kita dibersarkan dalam keberadaan materi dan kasing sayang yang cukup bahkan lebih, ketika keberadaan itu hilang kitapun dipaksakan keadaan untuk berkesusahan. dan sebaliknya jika keterbatasan yang membesarkan kita, kreatitifitas berkembang serta naluri untuk mengejar keberadaan itu terpatri dalam sanubari. walhasil keberadaan yang kita inginkan kita genggam. Saat menelusuri jalan hidup ini kegagalan dan kesalahan pernah kita lakukan, tapi yang membedakan adalah... pada saat kegagalan itu menerpanya, orang itu pasif menerima apa adanya dan berhenti berusaha. Tetapi ada juga yang pada saat kegagalan itu menghujamnya orang itu aktif menerima dan mengolah, belajar dari kesalahan yang ada kemudian melanjutkan usahanya sampai dia berhasil. Pengalaman selalu menjadi guru yang terbaik jika kita mau belajar dan mengkajinya. Orang besar itu dibenci sekaligus disukai oleh khalayak. Tetapi orang besar itu punya prinsip, punya konsep untuk mimpi-mimpinya, rencana-rencana briliant jangka pendek dan jangka panjang, dan orang besar itu berhati emas tak kenal putus asa.
Kita mungkin pernah dicibir, diragukan kemampuanya, dipandang sebelah mata, bahkan mungkin diturunkankan harga dirinya... sakit memang, ngilu hati ini mendengar dan menyaksikanya. Wajib hukumnya kita membela harga diri kita, karena harga diri adalah pemberian dari Tuhan, hal yang paling asasi yang sudah melekat dalam diri kita sejak lahir, harga diri bukan pemberian manusia dan manusia tidak berhak memberikan label baik atau buruk kepada setiap insan. kapasitas kita hanya cukup menjadikan setiap perbuatan seseorang sebagai catatan dalam hati, agar kita mawas diri. Karena Hidup adalah pembuktian, pembuktian terhadap orang-orang yang telah menyepelekan kita. pembuktian bahwa setiap dari kita punya gagasan dan perbuatan yang berarti untuk dilakukan. Bungkam setiap kesombongan, taklukan setiap tantangan. Ini hidup kita, yakin untuk mimpi kita berjuang untuk membuktikan mimpi kita jadi nyata!
-Jatibarang, 29.11.2010_Dji Ae-
GAGASAN DAN TINDAKAN KITA
Dalam sebuah kehidupan bermasyarakat, strata kehidupan sering jadi acuan untuk menilai seseorang. Penampilan juga termasuk menjadi sorotan. Kemudian muncul pertanyaan seperti ini... dia itu anaknya siapa? orang kaya atau miskin... pergaulanya sama siapa saja? Sekolah apa nganggur... dan pertanyaan-pertanyaan krusial lainya. Dalam bergaul yang kita inginkan adalah terjalinya simbiosis mutualis, ada juga macem kaya“efivit” dan atau “benalu”, jenis orang kaya gini sering kita jumpai dan kadang “menempel” dikehidupan kita. banyak wajah yang kita kenal, ratusan tangan pernah kita jabat, kita genggam, ribuan kali kita disapa dan dilambaikan tangan oleh teman... tetapi hanya beberapa orang yang mengijinkan bahunya sekedar untuk bersandar kala sedih menyambar, yang sudi hatinya untuk sekedar dititipkan rahasia-rahasia kecil perihal kehidupan, yang memberikan “tandu” untuk semangat yang lumpuh, yap mereka adalah sahabat kita. Hidup memang permainan dan kitapun senang bermain walaupun dalam bentuk dan pengertian yang berbeda-beda, politik adalah cara untuk mencapai tujuan, kita berteman merupakan sebuah kebutuhan, pengharapan agar diterima dalam pergaulan, aktualisasi diri mendapatkan perhatian, rival berkompetisi menuju sempurna dalam semua lini kehidupan tetapi bukan sekedar untuk mencukupi prestise dan prestasi semata. Ada rasa persaudaraan yang harus terpancang dalam hati, belajar merasakan kesedihan pun kebahagiaan, dan bekerjasama menggenapi mimpi.
Jika kita dibersarkan dalam keberadaan materi dan kasing sayang yang cukup bahkan lebih, ketika keberadaan itu hilang kitapun dipaksakan keadaan untuk berkesusahan. dan sebaliknya jika keterbatasan yang membesarkan kita, kreatitifitas berkembang serta naluri untuk mengejar keberadaan itu terpatri dalam sanubari. walhasil keberadaan yang kita inginkan kita genggam. Saat menelusuri jalan hidup ini kegagalan dan kesalahan pernah kita lakukan, tapi yang membedakan adalah... pada saat kegagalan itu menerpanya, orang itu pasif menerima apa adanya dan berhenti berusaha. Tetapi ada juga yang pada saat kegagalan itu menghujamnya orang itu aktif menerima dan mengolah, belajar dari kesalahan yang ada kemudian melanjutkan usahanya sampai dia berhasil. Pengalaman selalu menjadi guru yang terbaik jika kita mau belajar dan mengkajinya. Orang besar itu dibenci sekaligus disukai oleh khalayak. Tetapi orang besar itu punya prinsip, punya konsep untuk mimpi-mimpinya, rencana-rencana briliant jangka pendek dan jangka panjang, dan orang besar itu berhati emas tak kenal putus asa.
Kita mungkin pernah dicibir, diragukan kemampuanya, dipandang sebelah mata, bahkan mungkin diturunkankan harga dirinya... sakit memang, ngilu hati ini mendengar dan menyaksikanya. Wajib hukumnya kita membela harga diri kita, karena harga diri adalah pemberian dari Tuhan, hal yang paling asasi yang sudah melekat dalam diri kita sejak lahir, harga diri bukan pemberian manusia dan manusia tidak berhak memberikan label baik atau buruk kepada setiap insan. kapasitas kita hanya cukup menjadikan setiap perbuatan seseorang sebagai catatan dalam hati, agar kita mawas diri. Karena Hidup adalah pembuktian, pembuktian terhadap orang-orang yang telah menyepelekan kita. pembuktian bahwa setiap dari kita punya gagasan dan perbuatan yang berarti untuk dilakukan. Bungkam setiap kesombongan, taklukan setiap tantangan. Ini hidup kita, yakin untuk mimpi kita berjuang untuk membuktikan mimpi kita jadi nyata!
-Jatibarang, 29.11.2010_Dji Ae-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar