Poenyakoe ^ ^
Yooedha Wirathama
Yoedha Wirathama
Enjoying
Jumat, 09 Januari 2015
Jumat, 19 Desember 2014
Antara aku,kau, dan gelas.
Birunya biru langit
birunya lazuardi
Orennya oren kecoklatan
kayak tetanahan, bumi
Aku, kau, dan gelas
perumpamaan
ketidaksengajaan
tapi, kita satu
kerna cinta datang
mengoyak perbedaan
Aku, kau, dan gelas
dalam kekosongan
tapi kita satu, ketika saling memberi
kasih dan sayang
birunya lazuardi
Orennya oren kecoklatan
kayak tetanahan, bumi
Aku, kau, dan gelas
perumpamaan
ketidaksengajaan
tapi, kita satu
kerna cinta datang
mengoyak perbedaan
Aku, kau, dan gelas
dalam kekosongan
tapi kita satu, ketika saling memberi
kasih dan sayang
Kamis, 18 Desember 2014
Kau tak tahu berapa banyak waktu yang kulalui bersamamu
Kau tak kan tahu betapa kau berarti bagiku
Kau tak kan mengerti sejauh mana perjalanan ini kita lewati
Dan disinilah kita dimana perasaan itu berpaut bersemi juga
luruh
Ku tak kan sempurna tanpamu
Hariku takkan kembali bila kau tak disitu
Dan malamku akan jadi penantian panjang
Di tengah ombak yang menderu
Aku mencintaimu tak cukupkah itu?
Kusayang padamu masih kau ragu?
Mungkin itu memang tak cukup menangkan hatimu
Tak cukup tuk miliki dirimu
Kau takkan mengerti betapa kau berarti bagiku
Kau takkan sadari berapa banyak ruang yang telah kau isi
Dan tak kan terganti
Bila ini harus berhenti bolehkah aku bertanya
Kenapa disaat telah kuberikan langitku untukmu?
Kenapa disaat rasa itu merapat, dan membawa kita satu?
Kenapa disaat tak ada kau, tiada aku hanya kita?
Kenapa ia harus ada ketika ku mulai percaya?
Kenapa sekarang, saat ini bukan kemarin, atau lusa?
Ku kira kita takkan tahu jawabnya…
Namun bila ini harus berakhir terhenti sampai disini
Dan apa yang kan kukatakan tak kan penting lagi
Aku hanya ingin kau mengerti
Betapa kumenyayangimu
Betapa kuingin kau disini, disisiku selalu…
Dan jika aku boleh berharap
Jika aku boleh memohon
Jangan pergi, tetaplah disini
Tolong tetaplah disini
Tidak selamanya hanya sesaat saja
Karena takkan ku temukan bintang lagi seperti dirimu
Takkan kutemukan gerimis lagi seperti saat itu
Dan takkan kutemukan hati yang lain seperti hatimu
Karena kau akan tetap jadi kau
Yang kusayang, yang kurindu
Apapun artinya itu
di November, 2014
Ombang-ambing transparansi
di November
di bulan
di selepas bulanan kelabu
nan September
nan Oktober
bak - bak apalah itu
seolah memperadukan saja
cahya yg tak terbiaskan
dalam ruang transparan
namun
Aku
maksudku
seakan
tertahan
engganan
di November
di bulan
di selepas bulanan kelabu
nan September
nan Oktober
bak - bak apalah itu
seolah memperadukan saja
cahya yg tak terbiaskan
dalam ruang transparan
namun
Aku
maksudku
seakan
tertahan
engganan
TATAPAN WANABAYA
Gelora yayi tersihir,
sejak tatap mata, kanda.
Mirip laku kembang pare,
tersipu pada tarian
cendrawasih perjaka.
Kanda, hatiku terpukau,
atmamu penuh pesona.
Tak kunyana kau dibenci
ayah ramanda tercinta.
Kukira seorang kakek
lapuk. Pohon tua renta.
Malah perkasa, jantan
Mirip kuda perang. Tangguh.
Anugrah Dewa Semesta.
Kanda, kau tatapi yayi
mirip anak panah tancap
sel jiwa. Matamu elok.
Menyatu di hilir cinta
genggam langkah purnama.
Berlari kencang darahku,
jatuh di pelukan, kanda.
Hidupku teruntuk kasih,
sumpah rama yayi ingkar.
Demi rindu pakai topeng,
meronggeng tipu kakanda.
Andaikan kanda sadar,
aku ini si Pembayun
adalah putri Mataram.
sejak tatap mata, kanda.
Mirip laku kembang pare,
tersipu pada tarian
cendrawasih perjaka.
Kanda, hatiku terpukau,
atmamu penuh pesona.
Tak kunyana kau dibenci
ayah ramanda tercinta.
Kukira seorang kakek
lapuk. Pohon tua renta.
Malah perkasa, jantan
Mirip kuda perang. Tangguh.
Anugrah Dewa Semesta.
Kanda, kau tatapi yayi
mirip anak panah tancap
sel jiwa. Matamu elok.
Menyatu di hilir cinta
genggam langkah purnama.
Berlari kencang darahku,
jatuh di pelukan, kanda.
Hidupku teruntuk kasih,
sumpah rama yayi ingkar.
Demi rindu pakai topeng,
meronggeng tipu kakanda.
Andaikan kanda sadar,
aku ini si Pembayun
adalah putri Mataram.
Siapa yang Akan Jaga Lautku?
Kakak tua itu tidak hinggap di jendela.
Pembuat lagu itu bohong!
Di pinggir laut. Di kampung Sauwandarek,
kakak-kakak tua itu sangat cerewet.
Memindahkan pantatnya yang bahenol saja sambil mengomel.
Kakak tua itu tidak tua,
mereka banyak sekali. Ribuan, ratusan ribu, bahkan.
Muncul ketika matahari masih berembun.
Tidur ketika awan-awan putih bercumbu.
Kembali mengoceh saat matahari meleleh.
Kakak tua cerewet itu bersama belibis, gagak, dan rajawali.
Mereka sedang bermain tebak-tebakan.
Manusia mana yang akan mati terlebih dulu. Tanya gagak,
yang akan dikerubuti oleh lalat-lalat dan ulat lapar.
Rajawali menjawab,
manusia kampung yang bertugas menjaga laut itu sudah renta.
Sudah tak sanggup menantang ombak.
Tak sanggup memaki dan mengusir pengguna bom dan pembius ikan.
Kehidupan karang di laut sebentar lagi mati. Pasti dia yang mati!
Adakah yang menggantikannya kelak? Tanya belibis, si bebek laut.
Kakak-kakak tua itu tahu sebentar lagi tidak akan ada ikan.
Ikan sudah diracun, karang pun mati.
Manusia di kampung akan mati.
Kakak tua juga akan mati, juga gagak dan rajawali akan mati.
Lalu siapa yang menjaga laut nanti?
Entahlah, mungkin orang Jerman.
Kata si kakak tua yang paling mulus pahanya sambil terbang.
Acuh, menuju resort orang Jerman. Dan dielus-elus pahanya itu.
Kakak tua itu tidak hinggap di jendela.
Pembuat lagu itu bohong!
Di pinggir laut. Di kampung Sauwandarek,
kakak-kakak tua itu sangat cerewet.
Memindahkan pantatnya yang bahenol saja sambil mengomel.
Kakak tua itu tidak tua,
mereka banyak sekali. Ribuan, ratusan ribu, bahkan.
Muncul ketika matahari masih berembun.
Tidur ketika awan-awan putih bercumbu.
Kembali mengoceh saat matahari meleleh.
Kakak tua cerewet itu bersama belibis, gagak, dan rajawali.
Mereka sedang bermain tebak-tebakan.
Manusia mana yang akan mati terlebih dulu. Tanya gagak,
yang akan dikerubuti oleh lalat-lalat dan ulat lapar.
Rajawali menjawab,
manusia kampung yang bertugas menjaga laut itu sudah renta.
Sudah tak sanggup menantang ombak.
Tak sanggup memaki dan mengusir pengguna bom dan pembius ikan.
Kehidupan karang di laut sebentar lagi mati. Pasti dia yang mati!
Adakah yang menggantikannya kelak? Tanya belibis, si bebek laut.
Kakak-kakak tua itu tahu sebentar lagi tidak akan ada ikan.
Ikan sudah diracun, karang pun mati.
Manusia di kampung akan mati.
Kakak tua juga akan mati, juga gagak dan rajawali akan mati.
Lalu siapa yang menjaga laut nanti?
Entahlah, mungkin orang Jerman.
Kata si kakak tua yang paling mulus pahanya sambil terbang.
Acuh, menuju resort orang Jerman. Dan dielus-elus pahanya itu.
Selasa, 16 Desember 2014
Detik-detik
telah berlalu, Aku sabar menantinya, Sampai nanti kan saatnya, Hadirnya
apa yang kudamba, Dalam cinta, Kutunggu isyarat matamu, Adakah
perhatianmu, Sementara hati ini telah bicara, Menanti saat... Ketika
senyummu hadir, Ketika hati bicara, Dan saling bertegur sapa, Terlintas
bahagia, Ketika senyummu hadir, Ketika mata bicara, Dan saling memandang
mesra, Di dalam cintamu, Cintaku... Kasih mesra, kasih mesra...
Tak
sekali aku ingin Tuk mengkhianati cintamu Setulus hatimu semurni
cintamu Sayang percayalah aku Kau kan ku sayang selama hidupku Sayang
percayalah aku Pada bintang dan rembulan Ku berjanji setia selalu
Setulus hatimu semurni cintamu Sayang percayalah aku Kau kan ku sayang
selama hidupku Sayang percayalah aku Usah menangis oh sayang Usaplah
air matamu Tak sekejap pun kutinggalkan Aku milikmu selamanya.. Pada
bintang dan rembulan Ku berjanji setia selalu Setulus hatimu semurni
cintamu Sayang percayalah aku Kau kan ku sayang selama hidupku Sayang
percayalah aku Usah menangis oh sayang Usaplah air matamu Tak sekejap
pun kutinggalkan Aku milikmu selamanya.. Pada bintang dan rembulan Ku
berjanji setia selalu Setulus hatimu semurni cintamu Sayang percayalah
aku Kau kan ku sayang selama hidupku Sayang percayalah aku
Yang tersisa Hanya gambarmu Di meja kamarku Diiringi dua puisi Tentang lara hati Engkau adalah Yang terindah Sepanjang hidupku Luka meruah Semua telah berlalu Yang tersisa Rinai tawa mu Di sudut benak ku Seperti kau Masih di sini Larut di pelukku Prahara menerjang Kekasihku terhanyut Menghilang Ku semaikan duka Kau tak pernah kembali Oh… angin malam Bawa laguku Ungkapan rindu menggebu Ku masih tetap bertahan Kerna kenangan Yang tertinggal Hanya gambarmu Di meja kamarku Ditemani dua puisi Tentang lara hati Engkau adalah Yang terindah Sepanjang hidupku Luka meruah Semua telah berlalu
Langganan:
Postingan (Atom)















































