Tertanam sudah bunga kebencian
Terpupuk api amarah membara
Membakar semua kasih dan sayang
Adakah yang mendinginkannya
Adakah yang menyiraminya
Menyala
Membara
Bersemayaman dalam jiwa
Menyelimuti Ragaku
Yoedha Wirathama
Enjoying
Minggu, 25 Desember 2011
Kamis, 22 Desember 2011
Kala hujan reda
Usai sudah langit menangis
Tangisi bumi yang kian menua
Tersimpan sudah air mata berkah
Hidupi molekul-molekul biota alam seisinya
Hingga dasar lapis tujuh ujungnya
Kodokpun bernyanyi ria
Ditengah keheningan menghampiri
Memecah kesunyian malam
kala hujan sudah mereda
Ikuti iramaku bergembira
Menunggu hujan sedikit lama
Desah angin dingin masih kurasa
Meruntuhkan kehangatan
Gumamku pada malam
Langit padang berganti kelam
Awan hitam kian mencekam
Aku berkata pada sang malam
Kemana bintang dan rembulan
Yang slalu temani dewi malam
Sampai pagi mulai menjelang
Gemuruh angin semakin terdengar
Naungan kilat keras menggelegar
Memecah awan yang kian menghitam
Sejenak padangkan langit mencekam
Langitpun menangis
Melambangkan kesedihan
Teruntuk bumi yang menua
Air mata langit deras berderai
Hidupkan molekul-molekul biota
Aku menunggu
Gumamku pada penjaga malam
Aku sendiri disini kesepian
Tiada teman serupa insan
Masih ku menunggu
Deras hujan semakin reda
Kodokpun bernyanyi ria
Ikuti iramaku yang bergembira
Kala hujan reda
Meramaikan kesunyian
Ditengah keheningan menghampiriku
Langganan:
Postingan (Atom)