Yoedha Wirathama

Enjoying

Kamis, 20 September 2012

Aku Pun ingin

Seperti pelangi
Mewarnai langit sehabis sendu
lazuardi indah halus membiru
Bersih cerahan mega kelabu
Seperti pelangi
Aku pun ingin
Mewarnai kehidupan
Warna warni
Agar hidup penuh arti

Suram

Dikejar kelam
Awan hitam membingkai
Menggaris terang
Jiwapun suram
Bak senja surya tenggelam
Kala hujan datang
Satu harapan terkaram
Api hidup pun padam
Gelap terang
Terang gelap
Kelam berselimut ceria
Melingkar dalam temaramnya
Membelenggu dengam hangatnya

Nikmati

Dirasa kurasa
Kurasa merasa
Rasakanlah
Dapatkah...
Mengerti
Air mata jadi saksi
Sesal kurasa
Demi waktu
Demi masa
Berlalu sia-sia
Sesal sesal kurasa
Namun Apa daya
Nikmati saja
Kala jiwaku terjerat benci membara
Bak bunga mekar berduri
Akarnya mengoyak kasih dan sayang
Melenyap seketika
Amarah mengalir dalam tangkai

Kamis, 13 September 2012

Seperti Serasa

Seperti
Serasa
Hanya harap
Asa melesap di bukit api
Mati tak ber api
Serasa
Dirasa
Seperti
Melepas imaji di arasy
Harap menjadi
Tapi tak terkemudi
Tak bersayap di lazuardi
Jatuh di lembah mati
Hidup pun tercaci
Mimpi-mimpi imaji khayal tinggi
Lejuk terabaikan
Sebab keterbatasan melindungi
Ia mati
Seperti
Serasa
Adakah yg peduli selain sendiri

Kamis, 28 Juni 2012

Api Hidup

Api hidup
Hiduplah hidup
Api hidup
Tetaplah hidup
Api hidup
Biarlah hidup
Api hidup
Teruslah hidup
Hidup dan hidup
Menghidupi hidupnya jiwa

Rabu, 27 Juni 2012

Untuk Sebuah Nama

Tiada pernah terucap dibibir
Biarlah puisi ini menjadi saksi perasaan diri
Padamu
Dengan seuntai puisi ini
Dalam kertas putih ini
Oleh tinta hitam ini
Disini segalanya kan kau temui
Isi hati
Padamu
Oh kiranya..
Oh bahagainya..
Untuk sebuah nama

Bias Keraguan

Kala terjaga dilelapnya malam
Termenung aku dalam senyapnya
Mengetuk hari dalam peralihan
Sedang aku yang menanti
Jawaban pasti akan hadirnya
Bintang rembulan penghias malam
Memecah langit hitam elegan
Kelam
Masih kumenunggu
Meski pagi akan menjelang
Tetap aku tunggu
Setiaku masih akan hadirnya
Oh kiranya
Yakinkan aku tuhan

Mimpiku Asaku

Bersinarlah Asa
Buatlah jiwa ini tersenyum
Jangan biarkan ia berduka
Janjinya setia masih padamu
Mimpi
Kiranya engkau mewujud
Asa sang jiwa

Asa


Dalam bisu kumemanggilmu
Berharap engkau menyapa
Temani jiwa sedang menggeliat
Menantimu setia masih
Harapnya hadir tanpa duka
Yang pedihnya tiada tara
Asa,Harapan...
Menyautlah
Sapalah jiwa ini
Sudihlah hadir bahagia kan damai
Demiku Asaku
Impianku harapanku

Minggu, 17 Juni 2012

Rabu, 06 Juni 2012

Do'a dan Restu

Senandung do'aku pada pencipta
Sedari dulu yang jadi Asa
Yang kini menjelma
Terkuak problema
Restu Do'a yang tak terungkap
Tatkala tercinta enggan berikan
Kala pintaku hanyalah itu
Pada siapa selain ia
Tiada
Mengapa oh mengapa
Hanyalah alasan
Restu nan Do'a
Sambutlah Aku
Ciptakan keyakinan
Lesaplah keraguan
Dan kini kusimpan dalam memory do'a
Duhai Arasy
Semesta dan yang mencipta
Semoga Do'a Restu menyertaiku
Melingkarku terjaga
Dibingkai keyakinan
Dan kubawa bersama harapan
Mewujudkan indahnya impian

Kamis, 10 Mei 2012

Lejuk Terabaikan

Malam, sendiri
Sepi menyusur hati
Malam, sendiri
Tersudut tak temani
Malam, tak rujuk
Sedih telah merajut
Menangispun tak merajuk
Lejuk terabaikan
Hiruk pikuk kutengguk
Malam hanya nikmati
Sendiri yang tersudut
Hati yang surut
Susut terbingkai
Malam, tegaskan
Gelap, kelam
Tak menghiruk

Selasa, 10 April 2012

Tak Hanya Jiwa

Hujan menggericik
Disela mentari masih menyinar
Semesta menari
Senyum bumi pertiwi
Riang gembira
Tapi tidak jiwa ini
Meronta merintih-rintih
Menangis pilu
Senyum duka yang menyendu
Jeritnya menghisak
Tersendan menyesak
Daun-daun membujuk
Merajuk merayu jiwa
Melambai-lambai
Di dalam hidupnya penuh pikuk
Tak hanya jiwa

Sabtu, 10 Maret 2012

Manis Terasa Pahit

Tinggal waktu separuh malam
Masih aku memeluk bumi
Rintik hujan menggerimis hati
Bak saksi jiwa menduka
Ikut langit seakan tau
Jiwa meronta merintih tangis
Menelan pahit Realita
Air mata tumpuan duka
Manis-manis serasa
Pahit-pahit kurasa
Tertegun akan nestapa
Menanti hadir akan bahagia
Kemana ia akan kucari
Dalam do’a yang mencitra
Mungkin akan kubuat sendiri
Kiranya jiwa tegar kembali

Minggu, 04 Maret 2012

Kesanmu Pesonamu


Sedari dulu aku rasa
Sedari dulu ingin kutanya
Tentang Aku yang dirasa
Kala jumpa saat pertama
Duhai dirimu oh juwita

Semakin lama jelas kurasa
Semakin dirasa rindu bergelora
Nurani terguncang
Tak sanggup dirasa untuk bersandiwara
Gelora cinta kini smakin membara
Bertumpu didada

Asmara oh asmara
Terjerat aku olehmu
Rindu oh rindu
Kini aku terbelunggu
Olehnya oh Juwita

Teroris Cinta


Aku Teroris
Teroris berlingkar Asa
Harapku akan dirimu
Ntuk jd belahan jiwaku
Aku Teroris
Teroris dirimu
Karenamu aku merindu
Kini aku terbelunggu
Aku Teroris
Teroris hatimu
Sudihlah hadir belahan jwaku
Mengisi malamku dalam mimpi
Kiranya aku bertahta dihatimu
Oh kidung
Nyanyikan malam senandung rindu
Senandung rinduku, rindu padanya
Sampaikan salam terorku ini
Teror CINTAKU kepadanya
Adakah jawabnya

Kamis, 01 Maret 2012

Kala Duka Menyapa


Bersahajakah saat datang
Karenanya bahagia melenyap
Insan mana yang ingin
Tapi ini bumbu hidup
Ada Duka
Suka pun ada

Kendatinya menyaut penuh hisak
Tangispun menjadi
Jiwapun meronta
Luka menduka
Kala menyapa


Rabu, 15 Februari 2012

Menyapa Pagi


Menyapa Pagi
Terlihat langit remang-remang
Pertanda pagi akan datang
Seiring surya bercokol menjelang
Hangatkan jiwa alam sekalian
Menyapa embun bersahaja
Meski sirna olehnya jua
Indahnya peralihan
Memandang langit elok rupawan
Lazuardi biru mega cerahan
Bunga-bunga mekar bersemi
Burung-burung riang bernyanyi
Semoga saja jiwa ini
Dalam damai menyapa pagi 

Merindu

Rindu Aku
Rindu sekali
Merindu Aku pada harapan
Sempat Asaku terpaku

Selasa, 14 Februari 2012

2 Dialog 1 Jiwa


2 Dialog 1 Jiwa
Tanya aku tanya engkau
Engkau tanya aku tanya
Tanya-tanya aku engkau
Jawab aku jawab engkau

Aku engkau engkau aku
Akulah engkau engkaulah aku
Aku jiwamu engkau jiwaku
Jiwamu aku jiwaku engkau
Engkau ragaku ragamu aku
Ragamu aku ragaku engkau


Aku engkau satu
Engkau aku satu
Ragamu ragaku satu
Ragaku ragamu satu
Satu raga aku engkau
Satu jiwa engkau aku
Jiwamu jiwaku
Ragaku ragamu 

Senin, 13 Februari 2012

Menjadi pertanyaan


Menjadi Pertanyaan
Kutunggu sampai saat ini
 Kutunggu dan menunggu
 Menunggu penghias sang malam
 Itulah bintang dan rembulan 
Tapi apa yang terjadi
Gelap gulita masih kulihat 
Elegan dalam peralihan pagi
 Kutanya rembulan
 Bintangpun enggan berpijar 
Langit kelam 
Sedang sendiri bermain sunyi
 Termagut sepi dikelegapan
 Dingin kurasa angin mendesir
 Kutanya sekali lagi 
Mungkin disana ada jawabnya

Gubahahanku dipenghujung malam

Kala terjaga dilelapnya malam
Termenung aku dikegelapan
Mengetuk hari dalam peralihan
Sedang aku yang menanti
Jawaban pasti akan hadirnya
Bintang rembulan penghias malam
Memecah langit hitam elegan
Kelam

Masih kumenunggu
Meski pagi akan menjelang
Tetap aku tunggu
Setiaku masih akan hadirnya

Oh kiranya
Yakinkan aku tuhan