Dalam sebuah kehidupan
bermasyarakat, strata kehidupan sering jadi acuan untuk menilai seseorang.
Penampilan juga termasuk menjadi sorotan, kemudian muncul pertanyaan seperti
ini… Dia itu anaknya siapa?, Orang kaya
atau miskin?, Pergaulannya sama siapa saja?, Sekolah apa nganggur?, dan
pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dalam
bergaul yang kita inginkan adalah terjalinnya simbiosis mutualis, ada juga
macam kaya “efivit” atau “benalu”, jenis
orang kaya gini sering kita jumpai dan kadang menempel di kehidupan kita.
Banyak wajah yang kita kenal,
ratusan tangan pernah kita jabat, kita genggam, ribuan kali kita disapa dan
dilambaikan tangan oleh teman. Tetapi hanya beberapa orang yang mengizinkan
bahunya sekedar untuk bersandar kala sedih menyambar, yang sudi hatinya untuk
sekedar dititipkan rahasia-rahasia kecil perihal kehidupan yang memberikan “tandu” untuk semangat yang lumpuh. Yap,
mereka adalah sahabat kita.
Hidup memang permainan dan kitapun
senang bermain walaupun dalam bentuk pengertian yang berbeda-beda. Politik
adalah cara untuk mencapai tujuan, kita berteman merupakan sebuah kebutuhan,
pengharapan agar diterima dalam pergaulan, aktualisasi diri merupakan
perhatian, rival berkompetisi menuju sempurna dalam semua lini kehidupan,
tetapi bukan sekedar untuk mencukupi prestise dan prestasi semata. Ada rasa
persaudaraan yang harus terpancang dalam hati, belajar merasakan kesedihan pun
kebahagiaan, dan bekerjasama menggenapi mimpi.
Jika kita dibesarkan dalam
keberadaan materi dan kasih sayang cukup bahkan lebih, tapi ketika
keberadaan itu hilang kitapun dipaksakan keadaan untuk berkesusahan dan
sebaliknya jika keterbatasan yang membesarkan kita, kreativitas berkembang
serta naluri untuk mengejar keberadaan itu terpatri dalam sanubari, walhasil
keberadaan yang kita inginkan kita genggam. Saat menelusuri jalan hidup ini
kegagalan dan kesalahan pernah kita lakukan, tetapi yang membedakan adalah pada
saat kegagalan itu menerpanya, orang itu pasif menerima apa adanya dan berhenti
berusaha. Tetapi ada juga yang pada saat kegagalan itu menghujamnya, orang itu
aktif menerima dan mengolah, belajar dan mengkajinya.
Orang besar itu dibenci sekaligus
disukai khalayak. Tetapi orang besar itu punya prinsip, punya konsep, untuk
mimpi-mimpinya, rencana-rencana brillian jangka pendek dan jangka panjang, dan
orang besar itu berhati emas tak kenal putus asa. Kita mungkin pernah dicibir,
diragukan kemampuannya, dipandang sebelah mata, bahkan mungkin diturunkan harga
dirinya. Sakit memang, ngilu hati ini mendengar dan menyaksikannya. Wajib
hukumnya kita membela harga diri kita, karena harga diri adalah pemberian dari
Tuhan, hal yang paling azasi yang sudah melekat dalam diri kita sejak lahir.
Harga diri bukan pemberian manusia dan manusia tidak berhak memberikan label
baik atau buruk kepada setiap insan. Kapasitas kita hanya cukup menjadikan
setiap perbuatan seseorang sebagai catatan dalam hati, agar kita mawas diri.
Sebab, HIDUP adalah pembuktian,
pembuktian terhadap orang-orang yang telah menyepelekan kita. Pembuktian bahwa
setiap dari kita punya gagasan dan perbuatan yang berarti untuk dilakukan.
Bungkam setiap kesombongan, taklukan setiap rintangan, anggap saja cobaan,
ujian dalam kehidupan adalah tantangan yang perlu kita jawab. Anggap saja
gelombang kehidupan itu sebagai bumbu kehidupan. Ini HIDUP KITA, yakin untuk
mimpi kita, berjuang untuk membuktikan mimpi kita menjadi kenyataan. Akan
selalu ditempa setiap hati yang terus berjuang, sebesar apa itu gelombang
kehidupan, yakinlah “Raja Kita, Rajanya Manusia...MAHA
BESAR”. Yuk.. Perangi diri, lalu menangi. Biarkan saja, otak kita punya banyak
harapan gila, jangan membatasi imaji-imaji kita. Sebab harapan itu..., mengulur
janur, membelit umur. Jangan biarkan harapan kita sirna, walau kista gugurkan
janin cahaya kita, lalu wujudkan cita-cita kita membawa dunia ini dengan jemari
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar