Yoedha Wirathama

Enjoying

Selasa, 08 April 2014

Pembuktian Untuk Setiap Gagasan Dan Tindakan Kita



            Dalam sebuah kehidupan bermasyarakat, strata kehidupan sering jadi acuan untuk menilai seseorang. Penampilan juga termasuk menjadi sorotan, kemudian muncul pertanyaan seperti ini… Dia itu anaknya siapa?, Orang kaya atau miskin?, Pergaulannya sama siapa saja?, Sekolah apa nganggur?, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dalam bergaul yang kita inginkan adalah terjalinnya simbiosis mutualis, ada juga macam kaya “efivit” atau “benalu”, jenis orang kaya gini sering kita jumpai dan kadang menempel di kehidupan kita.
            Banyak wajah yang kita kenal, ratusan tangan pernah kita jabat, kita genggam, ribuan kali kita disapa dan dilambaikan tangan oleh teman. Tetapi hanya beberapa orang yang mengizinkan bahunya sekedar untuk bersandar kala sedih menyambar, yang sudi hatinya untuk sekedar dititipkan rahasia-rahasia kecil perihal kehidupan yang memberikan “tandu” untuk semangat yang lumpuh. Yap, mereka adalah sahabat kita.
            Hidup memang permainan dan kitapun senang bermain walaupun dalam bentuk pengertian yang berbeda-beda. Politik adalah cara untuk mencapai tujuan, kita berteman merupakan sebuah kebutuhan, pengharapan agar diterima dalam pergaulan, aktualisasi diri merupakan perhatian, rival berkompetisi menuju sempurna dalam semua lini kehidupan, tetapi bukan sekedar untuk mencukupi prestise dan prestasi semata. Ada rasa persaudaraan yang harus terpancang dalam hati, belajar merasakan kesedihan pun kebahagiaan, dan bekerjasama menggenapi mimpi.
            Jika kita dibesarkan dalam keberadaan materi dan kasih sayang cukup bahkan lebih, tapi ketika keberadaan itu hilang kitapun dipaksakan keadaan untuk berkesusahan dan sebaliknya jika keterbatasan yang membesarkan kita, kreativitas berkembang serta naluri untuk mengejar keberadaan itu terpatri dalam sanubari, walhasil keberadaan yang kita inginkan kita genggam. Saat menelusuri jalan hidup ini kegagalan dan kesalahan pernah kita lakukan, tetapi yang membedakan adalah pada saat kegagalan itu menerpanya, orang itu pasif menerima apa adanya dan berhenti berusaha. Tetapi ada juga yang pada saat kegagalan itu menghujamnya, orang itu aktif menerima dan mengolah, belajar dan mengkajinya.
            Orang besar itu dibenci sekaligus disukai khalayak. Tetapi orang besar itu punya prinsip, punya konsep, untuk mimpi-mimpinya, rencana-rencana brillian jangka pendek dan jangka panjang, dan orang besar itu berhati emas tak kenal putus asa. Kita mungkin pernah dicibir, diragukan kemampuannya, dipandang sebelah mata, bahkan mungkin diturunkan harga dirinya. Sakit memang, ngilu hati ini mendengar dan menyaksikannya. Wajib hukumnya kita membela harga diri kita, karena harga diri adalah pemberian dari Tuhan, hal yang paling azasi yang sudah melekat dalam diri kita sejak lahir. Harga diri bukan pemberian manusia dan manusia tidak berhak memberikan label baik atau buruk kepada setiap insan. Kapasitas kita hanya cukup menjadikan setiap perbuatan seseorang sebagai catatan dalam hati, agar kita mawas diri.
            Sebab, HIDUP adalah pembuktian, pembuktian terhadap orang-orang yang telah menyepelekan kita. Pembuktian bahwa setiap dari kita punya gagasan dan perbuatan yang berarti untuk dilakukan. Bungkam setiap kesombongan, taklukan setiap rintangan, anggap saja cobaan, ujian dalam kehidupan adalah tantangan yang perlu kita jawab. Anggap saja gelombang kehidupan itu sebagai bumbu kehidupan. Ini HIDUP KITA, yakin untuk mimpi kita, berjuang untuk membuktikan mimpi kita menjadi kenyataan. Akan selalu ditempa setiap hati yang terus berjuang, sebesar apa itu gelombang kehidupan, yakinlah “Raja Kita, Rajanya Manusia...MAHA BESAR”. Yuk.. Perangi diri, lalu menangi. Biarkan saja, otak kita punya banyak harapan gila, jangan membatasi imaji-imaji kita. Sebab harapan itu..., mengulur janur, membelit umur. Jangan biarkan harapan kita sirna, walau kista gugurkan janin cahaya kita, lalu wujudkan cita-cita kita membawa dunia ini dengan jemari kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar