Dua
jemari spesial enggan lepas gayanya memainkan inspirasi tiada batas
racun padatan yg tak karuan menyanding secangkir sajian komposisi
kafein. Membaur si malam,biru malam. Di lintas kelamnya,sepi,hening jadi
obrolan teman. Tentang angin desember di malam, menyibak malu senyum
rembulan. Lalu lintas asap mengitari wajah, menyangkut otak segala
racunnya saja.
Bukan sugesti,
Kepekaan diuji
Pada angin desember
Hilir di biru malam
Aku seorangan
Tiap ku bergadang
menyanding secangkir komposisi kafein
Aku nikmat sendirian
Sajian pekat
di jiwa gelas kaca
sampai kental sisa ampas
Mengendap di peraduan
Aku nikmat
Aroma kopi pekat
Kecupku lembut perlahan
Aku nikmat melupakan
Angin desember
Dinginnya desir menajam
Heningnya keji menikam
Memagut pekik tubuhku
Aku nikmat
di larut malam
Biar bosan senyum rembulan
di lintas gelap dan kelam
Aku nikmat menjenguk malam
Tak peduli
digigil meriang
Kepekaan diuji
Pada angin desember
Hilir di biru malam
Aku seorangan
Tiap ku bergadang
menyanding secangkir komposisi kafein
Aku nikmat sendirian
Sajian pekat
di jiwa gelas kaca
sampai kental sisa ampas
Mengendap di peraduan
Aku nikmat
Aroma kopi pekat
Kecupku lembut perlahan
Aku nikmat melupakan
Angin desember
Dinginnya desir menajam
Heningnya keji menikam
Memagut pekik tubuhku
Aku nikmat
di larut malam
Biar bosan senyum rembulan
di lintas gelap dan kelam
Aku nikmat menjenguk malam
Tak peduli
digigil meriang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar